Minggu, 11 Maret 2012

LAPORAN PKL APOTEK NITA BENGKULU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pendidikan tenaga kesehatan merupakan bagian yang sangat penting dalam mewujudkan perkembangan di bidang kesehatan yang diarahkan untuk mendukung upaya dalam pencapaian derajat kesehatan yang optimal. Dalam hal ini tenaga kesehatan, pendidikan kesehatan diselenggarakan untuk memperoleh tenaga yang mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan perubahan, pertumbuhan dan pembaharuan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.
Salah satu institusi yang menjadi tenaga kesehatan adalah SMF Bhakti Nusa Bengkulu yang bertugas untuk menghasilkan tenaga Farmasi tingkat menengah yang mampu bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang Farmasi. OIeh karena itu tenaga Farmasi harus terampil, terlatih dalam mengembangkan diri sebagai tenaga kesehatan yang profesional.
Untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas maka perlu ditingkatkan proses belajar mengajar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan pengalaman kerja kepada peserta didik melalui latihan kerja yang dikenal dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
Praktek Kerja Lapangan merupakan saran informasi terhadap dunia pendidikan dibidang kesehatan. Supaya peserta didik dalam mengikuti pendidikan kesehatan dapat mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu agar dapat melihat, mengetahui, menerima dan menyerap teknologi kesehatan merupakan masa orientasi bagi peserta didik sebelum langsung bekerja di masyarakat.

1.2  Tujuan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
1.2.1     Tujuan Umum PKL
Dengan diadakannya Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek maka diharapkan agar dapat menghasilkan tenaga Farmasi ditingkat menengah yang mampu bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan khususnya bidang Farmasi yang baik dan profesional.






1.2.2     Tujuan Khusus PKL
1.      Memberikan kemudahan bagi tamatan SMF masuk kerja.
2.      Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendapatkan pengalaman kerja yang nyata dan terpadu dalam melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan Farmasi, Rumah Sakit, PBF, Puskesmas, Gudang Farmasi.
3.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memasyarakatkan diri yang sesungguhnya baik sebagai pekerja mandiri terutama yang berkenaan dengan disiplin.
4.      Menerapkan disiplin dalam bekerja, sikap dan keterampilan yang baik sebagai tenaga kesehatan yang profesional.

1.3  Manfaat Praktek Kerja Lapangan (PKL)
1.      Peserta didik mampu menerapkan, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu dan pengetahuan yang telah didapatkan selama PKL (Praktek Kerja Lapangan) dalam melaksanakan kegiatan di lapangan kerja.
2.      untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN)
3.      peserta didik mendapatkan sarana informasi dan pendidkan dalam bidang ke Farmasian.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pengertian Apotek
Apotek adalah suatu tempat tertentu,tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.

2.2  Tugas dan fungsi Apotek:
  1. Tempat dan pengabdian profesi seorang Asisten Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
  2. sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat.
  3. sarana penyaluran pembekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlakukan masyarakat secara meluas dan merata.

2.3  Persyaratan Apotek
Adapun persyaratan-persyaratan Apotek menurut KepMenkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan Apotek adalah sebagai berikut
1.      Untuk mendapatkan izin Apotek, Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana Apotek yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan Farmasi dan perbekalan Farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
2.      Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan, komoditi yang lain di luar sediaan Farmasi.
3.      Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain diluar sediaan Farmasi.

2.4  Tugas dan Tanggung jawab Pengelola di Apotek
A.    Apoteker
Fungsi dan tugasApoteker
1.      Membuat visi dan misi.
2.      Membuat strategi, tujuan sasaran dan program kerja.
Membuat dan menetapkan peraturan/SPO pada setiap fungsi kegiatan di Apotek.
4.      Membuat dan menetapkan indicator From record pada setiap fungsi kegiatan di Apotek.
5.      membuatsistem pengawsan dan pengendalian SPO dan program kerja dari setiap fungsi kegiatan di Apotek.
Wewenang dan Tanggung jawab
1.      Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan.
2.      Menentukan sistem atau peraturan yang akan digunakan.
3.      Mengawasi pelaksanaan SPO dan program kerja.
4.      Bertanggung jawab terhadap kinerja yang diperoleh

B.     Asisten Apoteker
Fungsi pembelian
Tugas dan fungsi
1.      mendata kebutuhan barang.
2.      membuat kebutuhan pareto barang.
3.      mendata pemasok.
4.      Merencanakan dan melakukan pembelian sesuai dengan yang dibutuhkan kecuali ada ketentuan lain dari Apoteker Pengelola Apotek.
Wewenang dan Tanggung jawab
1.      Menentukan dan melakukan negosiasi harga beli barang dan masa pembayaran denngan supplier.
2.      bertanggung jawab terhadap perolehan harga beli.
3.      Bertanggung jawab terhadap kelengkapan barang.
Fungsi Gudang
Tugas dan fungsi
1.      Menerima dan mengeluarkan fisik barang.
2.      Menata, merawat dan menjaga keamanan barang.
Wewenang dan Tanggung jawab
1.      Menerima dan mengeluarkan barang.
2.      Menata dan menjaga keamanan barang
3.      Bertanggung jawab terhadap resiko barang hilang, rusak di gudang.
Fungsi pelayanan
Tugas dan fungsi
1.      Melakukan penjualan ddengan harga yang telah ditetapkan.
2.      menjaga keamanan ruang tunggu.
3.      Melayani konsumen dengan ramah dan santun.
4.      Memberikan informasi dan solusi kepada konsumen.
5.      Membina hubungan dengan pelanggan.

Wewenang dan tanggung jawab
1.      Memberikan diskon sesuai dengan matriks wewenangnya.
2.       Menjaga dan memelihara kebersihan dan keamanan barang.
3.      Bertanggung jawab terhadap kenyamanan ruang tunggu dan fasilitas konsumen.
4.      Bertanggung jawab terhadap hasil penjualan.
5.      Bertanggung jawab terhadap kepuasan konsumen.
Fungsi pembukuan ( tata usaha )
Fungsi dan tugas
1.      Mengumpulkan dan mencatat, melaporkan, mengarsipkan laporan dengan benar.
2.      Menjaga dan memelihara keamanan dan kebersihan dokumen Apotek dari resiko kehilangan atau kerusakan.
3.      Mengawasi pelaksanaan sistem yang telah ditetapkan pada  setiap kegiatan yang ada di Apotek.
Wewenang Dan Tanggung Jawab
1.      Memeriksa dan mengklarifikasi laporan kegiatan pembelian, penyimpanan (barang, uang) dan penjualan.
2.      Mengawasi pelaksanaan sistem pada se;luruh kegiatan.
3.      Bertanggung jawab terhadap kebenaran.
4.      Bertanggung jawab terhadap kebersihan.

2.5  Tata Cara Pendirian Apotek
Permohonan izin Apotek ditunukan kepada dinas kesehatan Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1
1.      dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima permohonan, dapat meminta bantuan tekhnis Kepala Balai POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap Apotek untuk melakukan kegiatan.
2.      Selambat-lambatnya 6 hari permintaan bantuan tekhnik dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, TIM Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3.
3.      dalam hal pemeriksaan Apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi menggunakan contoh formulir APT-4.
4.      Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan surat izin Apotek dengan menggunakan APT-5.
5.      Dalam hal pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM dimaksud ayat 3 masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 hari kerja menggunakan penundaan dengan menggunakan contoh formuli APT-6.
6.      Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 6, Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka wakyu 1 bulan sejak tanggal penundaan.

2.6  Pengelolaan Apotek
2.6.1        Pengelolaan Barang
a.       Pengelolaan barang di Apotek dibidang pelayanan meliputi:
1.      Pembantuan, pengolaan, percikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat.
2.      Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan kesehatan dibidang famasi lainya.
3.      Informasi mengenai perbekalan kesehatan dibidang farmasi.

2.6.2        Pemesanan Barang
a.       Pemesanan barang di Apotek
Pemesanan barang di Apotek dilakukan dengan menggunakan surat pesanan,yang memuat tentang keperluan Apotek tersebut. Surat pesanan harus ditanda tangani oleh Apoteker Pengelolah Apotek (APA) sesuai dengan peraturan undang-undang,kemudian surat pesanan dikirimkan ke PBF yang dituju.


2.6.3        Penyimpanan
Suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang) terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin.
Penyimpanan barang  di Apotek
a.       Petugas gudang mencatat seluru penerimaan barang hari itu dalam buku penerimaan barang.
b.      Mencatat semua surat penerimaan barang ke kartu stock.
c.       Menyimpan barang sesuai dengan jenis dan sifat barang dan disusun secara abjad.
d.      Barang tertentu disimpan di tempat terpisah ,misalnya:
1)      Narkotika disimpan dilemari terkunci.
2)      Bahan yang mudah terbakar ditempat tersendiri.
3)      Serum,vaksin dilemari pendingin.
4)      Cairan dipisahkan dengan yang padat.

Tujuan dilakukan penyimpanan barang :
a.       Melihara mutu obat.
b.      Menghindari penggunaan obat (barang) yang tidak bertanggung jawab.
c.       Menjaga kelangsungan persediaan.
d.      Memudahkan pencarian dan pengawasan.

2.6.4        Penjualan
a.       Tahap penjualan dengan resep dokter di Apotek
1.      Resep yang diterima diberi nomor urut resep dan dilakukan screening resep berupa kelengkapan resep meliputi :
a)      Nama dokter.
b)      Tanggal pembuatan resep.
c)      Nama dan umur pasien.
d)     Jumlah dan nama obat
e)      Signa atau atauran pemakai.
2.      Cek ketersediaan obat di Apotek,kemudian resep dihargai.
3.      Beritahukan harga resep pada pasien,bila pasien setuju maka,resep disiapkan oleh Asisten Apoteker (AA).
4.      Resep yang sudah diracik atau disiapkan,diberi etiket.
5.      Obat diserahkan pada pasien disertai informasi penting minimal cara pakaian obat.

2.6.5        Pengendalian persediaan (Inventori control)
 Inventori control   adalah sutu kegiatan untuk memastikan tercapai sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah di tetapkan,sehingga tidak terjadi kelebihan,kekurangan dan kekosongan obat.Tujuan Inventori control adalan untuk menciptakan keseimbangan antara besarnya persediaan dengan besarnya permintaan dari sekelompok barang.
Besar kecilnya volume pengendalian persediaan di Apotek dan di Puskesmas ditentukan oleh:
a.       Kecepatan bergerak atau perputaran barang.
Barang yang mempunyai kecepatan bergerak cepat (turn overtinggi) disediakan lebih banyak  (product fast moving = persediaan banyak).sedang barang yang mempunyai turn overrendah (product slow moving = disediakan sedikit)
b.      Lokasi apotek / Pedagang Besar Farmasi(PBF)
Apotek dipulau jawa,persediaan cukup disediakan untuk 1 bulan. diluar pulau jawa, persediaan barang disediakan untuk 1 ½ -2 bulan omzet
c.       Kebutuhan perbulan
Pengendalian berdasarkan kebutuhan perbulan diartikan pengadaan barang sebesar harga pokok atau cost of goods (C.G.S).

2.6.6        Pengelolaan Obat
1.      Narkotika
Narkotika adalah zat atau bahan obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan dalam golongan, I, II, dan III. narkotika menurut undang-undang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.       Berupa lemari khusus dibuat seluruhnya harus memenuhi ketentuan yang kuat
b.      Mempunyai kunci yang kuat
c.       Dibagi dua berlawanan
Bagian I      : untuk menyimpan morfin,pethidin dan garamnya.
Bagian II    :  untuk menyimpan narkotika yang di pakai sehari-hari.
d.      Lemari berukuran tidak kurang dari 400 x 80 x 100 cm. Apabila ukurannya lebih kecil maka lemari harus dipaku pada tembok.
Pelayanan Resep Narkotika:
Apotek melayani resep yang mengandung narkotika dalam bentuk resep aslinya.Apotek diperbolehkan melayani salinan resep yang mengandung narkotika dengan sarat Apotek tersebut memiliki resep aslinya.Apabila resep yang mengandung narkotika ditebus sebagian,maka Apotek wajib memberikan salinan resep kepada pasien, agar pasien dapat menebus resep tersebut dilain waktu.
2.      Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau bahan obat baik alamai maupun sintesis bukan narkotika yang berkhasiat khas pada aktifitas mental dan prilaku.Misalnya:diazepam, fenobarbital, dll.
Untuk obat psikotropika penyimpanannya disimpan dalam lemari Penyimpanan yang di susun berdasarkan abjad. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n.i (ne iteratur = tadak boleh diulang).

3.      Obat keras
Obat keras adalah obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan bahwa obat itu hanya boleh diserahkan dengan resep dokter; mempunyai takaran yang maksimum/yang tercantum dalam daftar obat keras diberi tanda khusus lingkaran bulat bewarna mera dengan garis tepi, bewarna hitam dengan hurup K yang menyentuh garis tepi. Obat baru,kecuali dinyatakan lain  Depertemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral.
Contoh obat : anti biotik, anti histamin, dll.
Obat keras ini merupakan obat dengan daftar ’’G’’ (Gevarlijk) artinya bahaya. Penyinpanan obat keras didalam gudang dan disusun berdasarkan abjad atau kelas terapi. Untuk obat keras yang digunakan untuk pelayanan resep dokter,diletakan dalam ruangan racikan.

4.      Obat bebas(OTC)
Obat yang dapat diserahkan secara bebas dan tanpa resep dari dokter tidak membahayakan bagi si pemakai diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi bewarna hitam.Penyimpanan obat bebas dibagian etalase depan (pada ruangan pelayanan obat bebas) disusun menurut abjad atau penyimpanannya dalam lemari yang tidak terkena cahaya matahari langsung,bersih dan tidak lembab
Contoh obat : OBH,tablet paracetamol,Minyak kayu putih, dll.
a.       Obat generik
Obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam farmakope indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Penyimpanan obat generik disimpan dilemari khusus generik yang terdapat di ruangan racikan dan disusun manurut abjad.
Contoh obat : asetosal 100 mg/tab,amoxicillin 500 mg/kap,dll.
b.      Obat wajib apotek
Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker di Apotek tanpa resep dari dokter.penyipanannya dalam lemari yang tidak terkena sinar lemari langsung,bersih dan tidak lembab, dan disusun menurut abjad.
Contoh : Obat kontrasepsi (linestrenol)

c.       Alat kesehatan
Alat kesehatan adalah bahan, instrument, mesin, implant yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiognosa, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia atau stuktur dan memperbaiki fungsi tubuh.Disimpan di lemari khusus yang penyusunannya menurut abjad,fungsi atau bentuknya. Contoh alat kesehatan : speed, wing needle, kondom, abbocatch,dll.


d.      Obat rusak dan kadaluarsa
Obat rusak yaitu obat yang bentuk atau kondisinya yang tidak dapat digunakan lagi.sedangkan waktu kadaluarsa yaitu waktu yang menunjukan batas akhir obat masih memenuhi syarat.waktu kadaluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun harus dicantumkan pada kemasan obat.
Obat dinyatakan rusak apbila :
Tablet   :  teradi perubahan warna,bau dan rasa,kerusakan berupa noda,berbintik-bintik,retak atau terdapat benda asing.
Kapsul  :  teradi perbahan warna kapsul, terbuka, kosong, melekat satu dengan yang lainnya.
Cairan   :  menjadi keruh atau timbul endapan, warna atau rasa berubah,botol plastic rusak atau bocor.
Salep    :   warna berubah,pot atau tube rusak atau bocor.
Injeksi   :  kebocoran wadah (vial, ampul) terhadap partikel asing pada serbuk injeksi larutan yang seharusnya jernih tampak keruh atau ada endapan.

Pengolahan obat rusak dan kadaluarsa:
1.      Mengumpulkan obat-obatan yang rusak (kadaluarsa).
2.      Catatan jenis dan jumlah obat yang rusak (kadaluarsa) tersebut pada formulir laporan obat rusak (kadaluarsa).
3.      Catatan jumlah obat rusak (kadaluarsa) pada kartu stock pada kolom pengeluaran.
4.      Isi format laporan.
5.      Kirim obat yang rusak (daluarsa) bersama-sama laporan ke dinas Kesehatan Dati Provinsi.


2.6.7        Pengelolaan Resep
Apoteker Pengelola Apotek (APA) mengatur resep yang telah di kerjakan menurut ukuran tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Resep yang di simpan jangka waktu 3 tahun dapat dimusnahkan. Resep yang mengandung narkotika dan psitropika harus dipisahkan dari resep lain.
Pada pemusnahan resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4 dan tanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek(APA), bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas Apotek.



TINJAUAN UMUM APOTEK

            Sejarah Apotek Nita
Apotek Nita didirikan pada tanggal 30 Mei 2001,berlokasi di JL.S. Parman NO. 188 Padang Jati Kota Bengkulu, Apotek ini beroprasi dengan Surat Izin Apotek No. 843.3/02 Aptk /DKK/V/2001. Pemilik sarana Apotek adalah Hakim Efendi,SE dan sebagai Apoteker Pengelola Apotek adalah Mardiaty, S.Si, Apt.
Pada tanggal 1 Maret 2003, Apoteker Pengelolah Apotek Nita digantikan oleh  Drs.Abdul wahap Dalimunthe, Apt, MM dengan surat izin Apotek No. 843.3/20.Apt/DKK/III/2003, kemudian untuk sementara mulai 1 Juni 2005 sampai 31 Desember 2005, Drs. H. Sarimun, Apt ditunjuk sebagai Apoteker pengganti  Apotek Nita, dan kemudian diganti kembali oleh Dra. Wirda Zein, Apt mulai tanggal 1 Januari 2006 sampai dengan tanggal 31 desember 2006. Pada tanggal 1 Mei Hayatai, S, farm, Apt ditunjuk sebagai Apoteker sampai 3 bulan berikutnya lalu Apoteker Pengelola Apotek Nita di gantikan oleh Drs. Abdul Wahab Dalimunthe, Apt MM sampai sekarang.

            Struktur Organisasi Apotek
Apotek adalah siatu tempat melakukan kerjasama antara beberapa orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar kegiatan di Apotek Nita dapat berjalan dengan baik, maka Apotek mempunyai organisasi sebagai berikut:




Uraian secara umum tugas masing-masing bagian:
a.       Apoteker Pengelola Apotek
Mengawasi, membina serta mengatur seluruh kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan di Apotek dan memeriksa pembukuan setiap bulannya.

b.      Pemilik sarana Apotek
Menyiapkan sarana dan prasarana serta permodalan yang dibutuhkan untuk jalannya Apotek.
c.       Peracikan
Melakukan pekerjaan kefarmasian di bawah pengawasan APA (Apoteker pengelola Apotek) dan betugas mengontrol persediaan obat di ruang racikan.
d.      Gudang
Melakukan pencatatan barang masuk dan keluar gudang.
e.       Administrasi
Membuat pembukuan, penyimpanan, pemasukan dan pengeluaran obat.
f.       Penjualan bebas
g.      Kasir
Menerima uang masuk,baik penjualan secara bebas maupun dari resep.

            Tata Ruang Apotek
Yaitu sebuah tata ruang untuk mempermudah petugas dalam pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing.

            Pengelolaan Apotek
            Pengelolaan obat
a.       Narkotika
Zat yang berasal dan tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun bukan semi sitesis yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran,hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan dalam golongan I,II,III.
1)      Pemesanan
Pemesanan obat narkotika diluar propinsi harus dilegalisir kedinkes. Surat pesanan dibuat 4 (empat) rangkap. Yang berhak menanda tangani adalah APA (Apoteker pengelola Apotek). Dengan rincian sebagai berikut:
a)      Warna putih (asli) dikirim ke PBF
b)      Warna merah (copy) dikfrim ke PBF
c)      Wama kuning (copy) dikirim ke PBF
d)     Warna hijau (copy untuk arsip Apotek) Contoh laporan terlampir.
2)      Penyimpanan
Menurut menkes RI No 28/ menkes/per/I/1978, berupa lemari khusus yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a)      Dibuat seluruhnya dan bahan kayu atau balok
b)      Dibagi dua bagian dengan kunci yang berlawanan Bagian 1: untuk menyimpan morfin, petidin, dan garamnya Bagian 2: untuk menyimpan narkotik yang dipakai sehari-hari
c)      Mempunyai kunci yang kuat
d)     Lemari berukuran tidak kurang dan 40 x 80 /100cm apabila ukuran kecil maka harus dipakukan dan ditempel ditembok.
3)      Pemusnahan
Pemusnahan narkotika dilakukan apabila:
a)      Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku atau tidak data digunakan dalam produksi kadaluarsa
b)      Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan pada pelayanan kesehatan dan perkembangan ilmu pengetahuan berkaitan dengan tindak pidana
4)      Pelayanan resep narkotika
a)      Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila dalam resep tersebut tercantum (ne iteratur) (tidak boleh diulang tanpa resep baru dan dokter)
b)      Resep boleh diambil dua kali jika resep tersebut resep asli dan dokter kemudian resep asli dibuat dalam salinanan resep (copy resep) pada waktu pasien datang untuk menebus yang ke dua kalinya lagi pasien harus membawa copy resep tersebut.

b.      Psikotropika
Zat atau obat sintesis maupun semi sintesis bukan narkotika yang berkhasiat psikotropika melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas aktifitas mental dan prilaku.
1)      Pesanan
Pesanan obat psikotropika di luar Propinsi harus di legalisir di Dinkes Propinsi yang terdiri dan 3 rangkap yaitu:
a)      Warna putih (Asli) dikirim ke PBF
b)      Warna merah (Copy) dikirim ke PBF Wama kuning (copy) arsip
Bila pesanan didalam propinsi tidak perlu di legalisir ke Dinkes yang terdiri 2 rangkap, yaitu:
a)      Warna putih (Asli) dikirim ke PBF
b)      Warna merah (copy) arsip
Contoh laporan terlampir.
2)      Pelayanan Resep Psikotropika
Apoteker tidak dibenarkan menulis resep mengulangi penyerahan atas dasar resep yang sama apabila dalam resep tercantum n.i (tidak boleh diulang tanpa resep dokter).

3)      Pemusnahan
Pemusnahan psikotropika dilakukan apabila:
a)      Kadaluarsa
b)      Berhubungan dengan tindak pidana
c)      Tidak memenuhi syarat produksi
d)     Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.
c.       Obat Keras
Semua obat yang pada bungkus luarnya terdapat hanya boleh diserahkan dengan resep dokter, dan mempunyai takaran maksimum yang tercantum dalam daftar obat keras diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf “K” menyentuh garis tepi. Obat biru dinyatakan oleh Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua persediaan parenteral.
1)      Pengelolaan Obat Keras
Obat keras ini dengan dafiar “0” (Gevaarhjk) artinya berbahaya.
2)      Penyimpanan
Didalam gudang disusun berdasarkan abjad atau kelas terapi. Untuk obat keras yang digunakan untuk pelayanan resep dokter diletakkan diruang racikan.



d.      Obat Bebas (OTC)
Obat yang dapat diserahkan secara bebas dan tanda resep dan dokter tidak membahayakan bagi si pemakai. Diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi warna hitam.
Pengelolaan obat bebas:
Penyimpanannya dibagi etalase depan/pada ruang pelayanan obat bebas disusun berdasarkan abjad atau penyimpanannya dalam lemari yang tidak terkena cahaya matahari langsung, bersih dan tidak lembab.
e.       Obat Generik
Obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Penyimpanan obat generik disimpan di lemari khusus generik yang terdapat di ruang racikan dan disusun menurut abjad.
f.       Obat Wajib Apotek (OWA)
Obat keras yang terdapat diserahkan oleh Apoteker di Apotek tanpa resep dari dokter. Penyimpanannya dalam lemari yang tidak terkena sinar matahari Iangsung, bersih dan tidak lembab disusun berdasarkan abjad.
g.      Alat Kesehatan
Bahan instrument, mesin implan-implan yang mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosa, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit seth memulihkan kesehatan pada manusia atau struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. Disimpan dalam lemari khusus alat kesehatan yang penyusunannya berdasarkan abjad.
h.      Obat Rusak dan Kadaluarsa
Obat rusak yaitu obat yang bentuk atau kondisinya yang tidak dapat digunakan lagi atau rusak. Kadaluarsa adalah waktu yang menunjukkan batas akhir obat masih memenuhi syarat baku. Kadaluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun harus dicantumkan dalam etiket. Pengolahan obat rusak dan kadaluarsa:
a)      Mengumpulkan obat-obatan yang rusak/kadaluarsa.
b)      Catat dan jenis jumlah yang obat yang rusak/kadaluarsa.
c)      Catat jumlah obat yang rusak/kadaluarsa pada kartu stock pada kolom pengeluaran.
d)     Isi format laporan.
e)      Kirim obat yang rusak/kadaluarsa bersama-sama laporan ke Dinas Kesehatan Dati II.

            Pengelolaan Resep
a)      Pelayanan
Pelayanan yang dapat dilakukan antara lain:
1)      Pelayanan resep dokter
Ada tiga bagian yang berperan aktif dalam kegiatan ini yaitu:
a.       Petugas bagian depan
b.      Asisten Apoteker yang bertugas menghargai resep
c.       Asisten Apoteker yang bertugas di ruang racikan untuk meracik obat dan menyiapkan obat.
Proses yang dilakukan dalam pelayanan resep dokter adalah:
a)      Resep diterima oleh Asisten Apoteker, dilihat apakah obatnya ada atau tidak.
b)      Bila resep sudah lengkap, resep tersebut dihargai oleh Asisten Apoteker.
c)      Setelah resep dihargai, diberitahukan kepada pasien apakah setuju atau tidak.
d)     Bila pasien setuju resep diberi no. urut.
e)      Petugas ruang racikan menyiapkan obat sesuai resep.
f)       Obat dicek kembali apakah sesuai dengan resepnya atau tidak.
g)      Obat diserahkan ke bagian pelayanan untuk diserahkan kepada pasien dan diberi penjelasan mengenai obat tersebut.
Apabila salah satu obat yang ditulis di dalarn resep tidak ada maka dibuat copy resep atau diganti dengan obat lain yang kandungannya sama dengan obat yang dimaksud. Hal ini harus mendapatkan persetujuan dan dokter yang menulis resep serta ditandai pada resep tersebut.
Untuk resep yang mengandung narkotika dalam pelayanan harus menggunakan resep asli dan tidak melayani copy resep. Jika resep asli mengandung narkotika maka kepada pasien ditanyakan alamatnya. Hal ini dilakukan guna rnenghindari penyalah gunaan obat narkotika.

2)      Pelayanan Penjualan Bebas
Pelayanan ini dilakukan oleh petugas bagian depan dan harus diberikan pelayanan yang sebaik mungkin.
3)      Pencatatan Resep
Resep yang mengandung obat psikotropika maupun narkotika dicatat dalam buku pencatatan narkotika maupun psikotropika.
4)      Penyimpanan Resep
Resep disimpan dan disusun menurut urutan tanggal dan bulan, resep-resep dipisahkan dan resep narkotik maupun resep psikotropika.
5)      Pemusnahan Resep
Apabila resep di dalam penyimpanan telah mencapai tiga tahun maka dimusnahkan dengan cara ditanam, dibakar atau cara lain yang memungkinkan. Pemusnahan resep harus dibuat berita acara dan dilakukan oleh Apoteker. Pengelola Apotek bersama sekurang kurangnya satu orang petugas dan Dinas Kesehatan Kota.
Pada berita acara tersebut harus memuat:
a)      Hari, tanggal, bulan, tahun pemusnahan
b)      Nama pemegang izin khusus Apoteker Pengelola Apotek
c)      Nama-nama saksi
d)     Nama dan jumlah resep yang dimusnahkan dalam Kg
e)      Cara pemusnahan
f)       Tanda tangan penanggung jawab Apotek pemegang izin khusus dan saksi-saksi.
Dibuat tiga rangkap yang ditujukan kepada:
a)      Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
b)      Dinas Kesehatan Kota Bengkulu.
c)      Balai POM Bengkulu.
d)     Arsip.

            Pembukuan
Pembukuan adalah salah satu rangkaian kegiatan pencatatan semua transaksi keuangan dalam suatu badan instansi, fungsinya mengetahui dan memperoleh dalam mengontrol jalannya proses kegiatan agar sesuai dengan tujuan dan rencana yang telah ditetapkan.
Adapun buku-buku yang digunakan dalam pembukuan di Apotek NITAadaIah:
a)      BukuKas
Buku Kas adalah buku pencatatan semua transaksi uang tunai, baik itu penerimaan maupun pengeluaran. Berfungsi untuk mencatat jumlah atau besar kecilnya pendapatan tiap bulannya. Pencatatan dilakukan setiap akhir bulan.

b)      Buku Bank
Buku bank adalah buku pencatatan segala transaksi yang dilakukan melalui bank. Berfungsi untuk mencatat pemasukan atau keperluan lain dan yang dibayarkan melalui cek yang didasarkan bila ada rekening Apotek di Bank.

c)      Buku pencatatan Hutang/Buku faktur
Buku faktur adalah buku yang digunakan untuk mencatat hutang Apotek sehingga dapat memperoleh mengetahui berapa besar hutang yang ditanggung Apotek dicatat Iangsung pada buku faktur yang telah dipindahkan sesuai dengan PBF masing-masing.

d)     Buku Expedisi atau Buku Pencatatan Barang Masuk
Buku ini digunakan untuk mencatat barang yang masuk dan diterima dan PBF, dapat juga digunakan untuk mengecek barang yang diterima.
e)      Buku Penjualan Bebas
Buku ini digunakan untuk mencatat barang, baik kosmetilc maupun alat kesehatan yang telah dijual dan Apotek. Buku Penjualan Bebas, yang mencakup penjualan obat-obat bebas, bebas terbatas, obat wajib Apotek dan kosmetika.

f)       Buku Penjualan Obat-obat melalui resep dokter

g)      Buku Pencatatan Resep Umum, Narkotika dan Psikotropika
1)      Buku Pencatatan Resep Umum
Buku ini digunakan untuk mencatat pengeluaran obat melalui resep yang dicatat setiap harinya.

2)      Buku Pencatatan Resep Narkotika dan Psikotropika Buku ini digunakan untuk mencatat penggunaan atau pengeluaran obat Narkotika dan Psikotropika setiap han sesuai dengan resep dokter. Bukti ini ditutup setiap akhir bulan supaya diketahui jumlah pemakaian narkotika dan psikotropika setiap bulannya.

h)      Blanko Pesanan Obat Surat Pesanan
Blanko ini ditulis berdasarkan buku permintaan barang kebutuhan obat obatan atau perbekalan farmasi di Apotek yang ditanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek.
Surat Pesanan ini terdiri dan:
1)      Wama putih (asli) dikirim ke PBF.
2)      Warna kuning (copy) sebagai arsip.
Apotek NITA melakukan pemesanan obat ke PBF yang ada di Propinsi Bengkulu dan ada beberapa di luar Propinsi.
Macam-macam blanko pesanan obat:
1)      Blanko pesanan obat bebas, bebas terbatas dan obat keras 1 (blanko)
Umumnya, Apotek NITA melakukan pemesanan obat melalui sales dan harus disertai dengan pemesanan.
Contoh pesanan obat bebas terlampir.
2)      Blanko Pesanan Psikotropika
Blanko pemesanan ini terdiri dan 2 (dua) rangkap:
a)      Warna putih (asli) dikirim ke PBF.
b)      Warna putih (copy) sebagai arsip Apotek.
Jika pemesanan ditujukan kepada PBF yang berdomisihi di dalam wilayah Propinsi Bengkulu, maka Surat Pesanannya sama dengan surat pesanan obat keras dan surat pesanan tersebut tidak perlu dilegalisir oleh Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu, tetapi jika pesanan obat psikotropikanya ditujukan ke PBF yang berdomisili di luar wilayah Propinsi Bengkulu, maka Surat Pesanan tersebut sebelum dikirimkan kepada PBF yang dituju harus dilegahisir terlebih dahulu ke Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
Contoh blanko pemesanan obat Psikotropika terlampir.
3)      Blanko Pesanan Narkotika
Blanko ini ditujukan ke PBF Kimia Farma Bengkulu, karena PBF ini yang diberi izin dan wewenang untuk mendistribusikan that narkotika tersebut Surat pesanan ini ditanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek, apabila Apotek mehakukan pemesanan narkotika pada PBF yang berdomisili di luar wilayah Propinsi Bengkulu maka surat pesanannya harus dilegalisir terlebih dahulu oleh Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
Blanko pemesanan obat narkotika terdiri dan 4 rangkap:
a)      Warna putih (asli) dikirim ke PBF.
b)      Warna merah (copy) serahkan ke Dinkes Propinsi Bengkulu.
c)      Warna kuning (copy) sebagai arsip Apotek.
d)     Warna biru (copy) untuk arsip Apotek
Contoh blanko pemesanan obat narkotika terlampir.


4)      Blanko kartu stock dan blanko persiapan barang
Blanko kartu stock adalah blanko yang digunakan untuk mencatat keluar masuknya obat-obatan dalam gudang di luar gudang selain itu juga untuk mengetahui kadaluarsa dan obat.

5)      Blanko Kwitansi dan Nota Penjualan
Kwitansi adalah tanda bukti yang diberikan, apabila pasien meminta tanda bukti atas pembelian, pembayaran. Sedangkan nota digunakan untuk mencatat pembelian obat, kosmetika maupun alat kesehatan yang akan dijual di Apotek.
Contoh blanko kwitansi terlampir.
6)      Blanko Salinan Resep
Adalah blanko yang dibuat untuk menyalin kembali resep sesuai dengan resep aslinya. Hal ini dilakukan apabila pasien hanya dilayani sebagian dan resep aslinya, atas permintaan pasien itu sendiri dan tidak mengandung obat narkotika. Hal ini dilakukan guna menghindari penyalah gunaan obat narkotika.
contoh blanko salinan resep terlampir.

            Laporan
Merupakan rangkaian kegiatan dalam penetapan usaha obat-obatan secara tertib baik diterima, disimpan maupun didistribusikan untuk pelayanan.
a.       Format Laporan Narkotika
Yaitu laporan yang dibuat oleh Apotek guna mencatat pengedaran dan pemakaian obat narkotika yang berasal dan resep dokter dalam satu bulannya.
Laporan ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dengan tembusan:
1)      Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
2)      Kepala Balai POM Bengkulu.
3)      Arsip.
Contoh: format laporan terlampir.
b.      Format Laporan Psikotropika
Adalah suatu laporan yang dibuat Apotek untuk mencatat pengeluaran obat Psikotropika berdasarkan pelayanan resep dokter setiap bulannya ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dengan tembusan:
a)      Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu.
b)      Kepala Balai POM Bengkulu.
c)      Arsip.
Contoh: format laporan terlampir.
c.       Format Laporan Obat Generik
Yaitu suatu laporan yang dibuat oleh pihak Apotek yang mencatat nama dan alamat dokter. Jumlah resep dan nama obat berasal dan dokter setiap bulannya. Laporan obat generik ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu dengan tembusan:
a)      Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu.
b)      Kepala Badan POM.
c)      Arsip.


BABIV
PEMBAHASAN

            Pengelolaan Apotek
Apotek Nita didirikan pada 30 Mei 2001 di Ji. S. Parman NO 188 Padang Jati Bengkulu. Apotek ini beroperasi dengan surat izin No. 843.3 /02 Aptk /pkk/ V/ 2001.
            Pengelolaan obat
Pengelolaan obat di Apotek Nita yaitu meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan. Setelah Apoteker memilih PBF yang sesuai yaitu memeberikan keuntungan dari segala sudut. Misalnya harga yang ditawarkan sesuai, ketepatan waktu pengiriman dan diskon yang diberikan sesuai, barulah diadakan pengadaan. Pengadaan dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dibuat dan disesuaikan dengan anggaran dana yang ada, setelah barang masuk dilakukan penyimpanan, obat disimpan dalam wadah yang cocok dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Obat di Apotek Nita disusun berdasakan jenis obat dan abjad, hal itu tentu saja memudahkan Asisten Apoteker(AA) dalam melaksanakan tugas. Menurut saya pengelolaan obat di apotek Nita sudah sesuai dengan literatur yang telah ada.

            Penglolaan Resep
Resep yaitu permintaan tertulis dari Dokter, drG, dr. Hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek(APA). Dibagian resep harus teretera skrining resep, yaitu persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. Resep yang masuk dapat berupa racikan dan bukan racikan, setelah Asisten Apoteker(AA) memeriksa resep, menghargai resep barulah dilakukan pengambilan obat dan peracikan, obat yang diracik harus sesuai dengan prosedur, yaitu memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat setelah itu baru dilakukan penulisan etiket yang benar. Kemasan obat juga harus rapi dan dilakukan penyesuaian antara obat dan resep. Tahapan terakhir Asisten Apoteker (AA) harus memberikan informasi obat yang benar, jelas dan mudah dimengerti. Kesimpulannya yaitu sistem pegelolaan resep di apotek Nita sudah cukup baik.

            Administrasi
           Administrsi di Apotek Nita ditangani oleh karyawan-karyawan yang bertanggung jawab. Dengan menggunakan peralatan seadanya, dan belum menggunakan komputer. Tetapi hal itu tidak menjadi penghambat kegiatan administrasi di apotek.



PENUTUP

            Setelah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Apotek dan baik yang berhubungan dengan pengolahan obat, administrasi dan lain-lain.
A.    Kesimpulan
1.      Seorang Asisren Apoteker (AA) mempunyai tugas dan tanggung jawab yang cukup besar dalam pelaksanaan kegiatan kefarmasian baik di Apotek ataupun di puskesmas.
2.      Dengan adanya Praktek Kerja Lapangan (PKL), dapat membina siswa untuk lebih menjadi tenaga kerja kesehatan yang terampil, disiplin, jujur, dan teliti.
3.      Dengan adanya program Praktek Kerja Lapangan dapat menambah pengalaman dan pengetahuan yang bemanfaat dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
4.      Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan masyarakat yang sangat diperlukan adalah kekompakan, dan kerja sama yang baik antara tenaga kesehatan yang satu dengan yang lain, serta adanya rasa saling percaya satu sama lain.

B.     Saran
1.      Hendaklah pihak sekolah memberikan arahan/gambaran yang lebih khusus tentang hal-hal apa saja yang harus dikuasai sewaktu ingin dilaksanakannya PKL agar sewaktu PKL dapat menjadi lebih efektif dan efisien.
2.      Hendaklah lebih diperhatikannya kegiatan yang dilakukan oleh siswa didalam melaksaan PKL dan mengevaluasi sesering mungkin.
3.      Sebagai tenaga kesehatan yang baik hendaknya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan.
4.      Hendaklah generasi yang akan datang lebih memahami isi dari laporan, sehingga dapat terus meningkatkan mutu dari setiap generasi ke ganerasi.
Demikian kesimpulan dan saran yang dapat penulis sampaikan, Dalam laporan kerja lapangan ini, penulis berharap ini semua dapat bermanfaat.








DAFTAR PUSTAKA

1.      Arsip-arsip dan pembukuan di Apotek NITA, 2009
2.      Departemen Kesehatan R.I. 2004. Jilid III. Administrasi Farmasi. Jakarta : Depkes.
3.      Laporan PKL di Apotek NITA.
4.      Undang-undang kesehatan jilid I dan II


1 komentar:

  1. Permisi admin numpang promo, kalo ada yang butuh software Apotek bisa ke sini
    http://www.ji-software.com/berita-156-software-aplikasi-apotek.html
    thanks to admin

    BalasHapus